Minahasa, Chanelpost.com Suasana khidmat sudah terasa sejak jauh, menyambut para jemaat yang berduyun-duyun memenuhi rumah ibadah itu. Hari ini, 25 Januari 2025, adalah momen istimewa: perayaan syukur 35 tahun perjalanan jemaat GMIM Kamanga. Di antara kerumunan, hadir pula Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, SS, yang turut serta dalam kebaktian syukur tersebut.
Ajaran dan Tata Gereja Sinode GMIM, Pdt. Jani Ch. Rende, M.Th. Dengan penuh hikmat, ia mengajak seluruh umat merenungkan perjalanan panjang tiga setengah dekade. Setiap lantunan pujian dan doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual, melainkan napas syukur atas penyertaan Tuhan dalam setiap jejak pelayanan dan kesaksian gereja di tengah-tengah dinamika masyarakat Minahasa.
Dari jemaat yang mungkin kecil di awal pembentukannya, kini telah tumbuh menjadi komunitas yang kokoh. Perjalanan 35 tahun itu digambarkan sebagai mosaik indah yang dirajut dari iman, pelayanan kasih, dan ketekunan dalam menjalani panggilan sebagai garam dan terang di dunia, khususnya di tanah Minahasa.
Wakil Bupati Vanda Sarundajang mendapat kesempatan untuk menyampaikan ucapan. Dengan penuh apresiasi, ia menyampaikan selamat ulang tahun kepada segenap jemaat GMIM Kamanga. Pihaknya menegaskan komitmen Pemerintah Daerah untuk terus bersinergi dengan gereja dalam berbagai aspek pembangunan, terutama pembangunan manusia.
“Gereja memiliki peran strategis dalam membina kehidupan rohani sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menciptakan masyarakat yang rukun, beriman, dan berkarakter,” ujar Wabup Vanda. Pernyataannya itu bukan sekadar pidato formal, melainkan pengakuan atas kontribusi nyata gereja dalam membingkai kehidupan sosial yang harmonis. Ia melihat gereja sebagai pilar moral dan agen pemersatu yang perannya sangat dibutuhkan.
Dukungan itu, lanjutnya, adalah bentuk konkret dari kemitraan yang saling menguatkan. Pemerintah membangun infrastruktur dan pelayanan publik, sementara gereja menguatkan fondasi karakter, iman, dan moral masyarakat. Sinergi inilah yang diharapkan dapat mempercepat terwujudnya Minahasa yang maju, tidak hanya secara material tetapi juga secara spiritual dan sosial.
Ibadah syukur itu pun ditutup dengan doa berkat, mengukuhkan kembali komitmen untuk melayani. Kehadiran sejumlah pejabat seperti Camat Tompaso, Camat Kawangkoan, Kapolsek Tompaso, serta para tokoh agama dan masyarakat, menandakan bahwa perayaan ini dipandang sebagai peristiwa yang penting dalam kehidupan komunitas, bukan hanya secara religius tetapi juga sosial-kemasyarakatan.
Sebagai penutup, jemaat keluar dari gedung gereja dengan hati yang dipenuhi syukur dan semangat baru. Perayaan 35 tahun ini bukan titik akhir, melainkan sebuah batu loncatan untuk mengawali babak pelayanan berikutnya dengan lebih bersemangat, tetap bersinergi dengan semua elemen masyarakat dan pemerintah, untuk kebaikan bersama tanah Minahasa tercinta. (Josel)











