Minahasa, Chanelpost.com. Lapangan upacara Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tondano pagi itu menyajikan pemandangan yang berbeda dari biasanya. Di bawah langit cerah Senin (22/12), bukan formasi petugas yang didominasi wajah pria yang berdiri tegap, melainkan para perempuan dengan seragam khaki rapi yang menjadi tulang punggung jalannya Upacara Peringatan Hari Ibu. Suasana khidmat bercampur kebanggaan terpancar jelas, menandai sebuah momen istimewa dalam catatan dinamika lembaga pemasyarakatan.
Bertindak selaku Inspektur Upacara, Kepala Subbagian Tata Usaha Lapas Tondano, Lidya Awoah, memimpin rangkaian acara dengan penuh wibawa. Setiap aba-aba dan gerakannya penuh ketegasan, mencerminkan profesionalisme dan dedikasi. Kehadirannya di posisi tersebut bukan hanya sekadar protokoler, melainkan simbol nyata dari pergeseran paradigma dan pengakuan atas kapabilitas kepemimpinan perempuan di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM.
Dalam amanat yang dibacakan dengan lantang, Lidya menyampaikan pesan mendalam dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Ditekankan bahwa Hari Ibu adalah momentum strategis untuk merefleksikan dan menghargai kontribusi perempuan dalam segala lini pembangunan nasional. Peran ibu sebagai penopang ketahanan keluarga dan peletak dasar karakter generasi bangsa mendapat penekanan khusus, diiringi harapan agar perempuan terus menjadi agen perubahan positif di manapun mereka berada.
Pemilihan mayoritas petugas upacara dari kalangan pegawai perempuan bukanlah kebetulan. Langkah ini merupakan bentuk komitmen konkret Lapas Tondano dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di lingkup pekerjaan yang kerap dianggap maskulin. Tampilnya mereka sebagai pemandu upacara, pembawa naskah, hingga pengatur protokol adalah pesan tegas: setiap peran dalam institusi ini dapat diisi oleh siapapun berdasarkan kompetensi, tanpa batasan gender.
Lebih dari sekadar upacara seremonial, kegiatan ini berhasil menjadi sarana perekat kebersamaan dan pembelajaran empati bagi seluruh keluarga besar Lapas Tondano. Bagi petugas laki-laki yang hadir sebagai peserta, ini adalah momen untuk melihat langsung dan menghormati kolega perempuan mereka yang menjalankan tugas dengan sempurna. Semangat kolaborasi dan saling dukung pun semakin mengkristal.
Di balik tiang bendera dan barisan rapi, upacara ini juga bermakna sebagai pengingat akan nilai-nilai keibuan yang universal: kasih sayang, keteladanan, dan ketangguhan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam konteks pembinaan narapidana, di mana pendekatan yang humanis dan penuh empati seringkali membuka jalan bagi perubahan perilaku. Para petugas perempuan, dengan peran ganda mereka, membawa spirit tersebut dalam keseharian tugas.
Upacara pun ditutup dengan khidmat, meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir. Lapas Tondano tidak hanya memperingati Hari Ibu dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata yang inklusif dan progresif. Langkah kecil ini diharapkan dapat terus beresonansi, memperkuat fondasi kesetaraan dan memperkaya warna dalam setiap aspek pembinaan dan pelayanan di dunia pemasyarakatan. (JS)











