Laporan dari Balik Tembok: Semua Sampel Bersih, Komitmen Kian Kukuh

Minahasa, Chanelpost.com – suasana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tondano tampak berbeda. Bukan hanya rutinitas harian yang berjalan, tetapi sebuah kegiatan penting tengah disiapkan dengan seksama. Meja-meja berjajar, formatur daftar hadir, dan perangkat tes urine tertata rapi, menandai dimulainya operasi mendadak yang menyasar seluruh penghuni dan penjaga balai pemasyarakatan.

Kegiatan tes urine menyeluruh ini bukanlah aksi spontan, melainkan bagian dari upaya terstruktur dan serius Lapas Tondano untuk mensterilkan lingkungannya dari ancaman narkoba. Setiap orang, tanpa terkecuali, dari petugas keamanan, staf administrasi, hingga warga binaan, antre untuk memberikan sampel urin mereka. Proses ini dilaksanakan dengan prinsip tertib dan transparan, sebagai mata tombak deteksi dini dan pencegahan. Selasa (13/1/2026)

Di balik layar, kebijakan ini merupakan implementasi nyata dari instruksi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Lapas Tondano dengan tegas menjalankan program Zero Halinar yang memusatkan perhatian pada pemberantasan tiga hal: penyelundupan handphone, praktik pungutan liar, dan tentu saja, peredaran serta penyalahgunaan narkotika. Tes urine menjadi barometer awal keseriusan program tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIB Tondano, Akhmad Sobirin Soleh, dengan mantap mengawasi seluruh proses. Dalam pernyataannya, ia menegaskan sikap tak kenal kompromi. “Tes urine ini adalah bentuk komitmen kami. Tidak ada toleransi terhadap penyalahgunaan narkoba, baik bagi pegawai maupun warga binaan,” ucapnya tegas. Baginya, Lapas harus menjadi cermin tempat pembinaan yang bersih, aman, dan berintegritas.

Sobirin melanjutkan, langkah seperti ini tidak akan berhenti sekali saja. Ia menekankan bahwa kegiatan serupa akan dilakukan secara berkala dan konsisten. Ini adalah cara untuk menanamkan disiplin dan menjaga profesionalisme seluruh aparatur pemasyarakatan, sekaligus memberikan pesan deterren yang kuat kepada setiap warga binaan.

Setelah melalui proses pemeriksaan yang cermat, hasil sementara pun keluar. Kabar baik datang: seluruh pegawai dan warga binaan yang menjalani tes pada hari itu dinyatakan negatif narkoba. Hasil ini bagai angin segar yang menguatkan optimisme bahwa lingkungan bebas narkoba bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan di dalam tembok pemasyarakatan.

Melalui momen ini, Lapas Tondano sekali lagi menancapkan komitmennya yang lebih luas. Ini bukan sekadar tentang tes negatif, tetapi tentang kontribusi nyata terhadap reformasi birokrasi di sektor pemasyarakatan. Setiap langkah pencegahan adalah batu bata untuk membangun sistem yang lebih profesional, akuntabel, dan humanis.

Pada akhirnya, hari itu meninggalkan pesan yang jelas: di balik jeruji, ada upaya kolektif untuk menjaga kemurnian proses pembinaan. Botol-botol sampel urine yang telah diperiksa itu menjadi simbol kecil dari perjalanan panjang menuju integritas, dimulai dari dalam tembok Lapas itu sendiri. (Josel)