Ibadah Syukur Awal Tahun, Semangat Kebersamaan Warnai Kawangkoan

Minahasa, Chanelpost.com – Fajar pertama di tahun 2026 menyinari Kabupaten Minahasa dengan harapan baru.Di Gedung Gereja Pniel Sentrum Kawangkoan, suasana pagi itu terasa istimewa dan penuh kekhidmatan. Udara sejuk pegunungan menyatu dengan kehangatan salam dan senyum antarsesama jemaat yang berduyun-duyun memenuhi bangunan gereja. Mereka datang dengan satu tujuan: mengawali lembaran tahun baru dengan Ibadah Syukur, mengakui penyertaan Tuhan yang telah dilalui dan yang akan datang.

Di tengah bangku yang dipadati umat,hadir seorang figur yang tak asing: Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, bersama keluarganya. Kehadirannya bukan sebagai pembeda, melainkan sebagai pemersatu. Tanpa sekat protokoler yang kaku, ia menyatu dalam jemaat, ikut larut dalam alunan pujian dan doa yang menggema. Momen ini menjadi potret nyata kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya, bertemu dalam ruang yang sama untuk merendahkan hati di hadapan Sang Pencipta.

Ibadah yang dipimpin oleh Pdt.James A. Rumagit, M.Th, Sekretaris Umum Pucuk Pimpinan Majelis Gembala KGPM, mengalir dengan khidmat. Dari atas mimbar, suaranya lantang menyampaikan khotbah yang mengajak refleksi mendalam. Ia menegaskan bahwa tahun baru bukan sekadar pergantian angka, tetapi sebuah anugerah kesempatan untuk memperbarui tiga hal fundamental: iman, pengharapan, dan semangat pelayanan kepada sesama. Setiap kata seakan menyirami jiwa-jiwa yang harah akan makna di tengah arus zaman.

Kehadiran Wakil Bupati Sarundajang dalam ibadah ini mengandung makna yang dalam,jauh melampaui sekadar seremoni. Ia adalah simbol konkret dari jembatan yang ingin dibangun dan diperkuat antara pemerintah daerah dengan hati nurani masyarakat. Di ruang ibadah inilah, kebijakan dan kepemimpinan duniawi ditempatkan kembali dalam kerangka spiritual, mengingatkan bahwa pembangunan lahiriah harus berjalan beriringan dengan penguatan batiniah warga.

Usai ibadah,dalam sambutannya yang singkat namun penuh isi, Vanda Sarundajang menuangkan harapannya untuk Minahasa. “Mengawali tahun dengan ibadah syukur adalah pengakuan iman bahwa segala sesuatu ada dalam penyertaan Tuhan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan diisi dengan kerja nyata yang bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut,Sarundajang menegaskan komitmennya yang tak berubah. Pemerintah daerah, tegasnya, akan terus berjalan seiring dengan gereja dan seluruh komponen masyarakat. Tujuannya jelas: membangun Minahasa yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga memiliki fondasi karakter yang beriman, rukun, dan sejahtera secara menyeluruh. Sinergi ini diyakini sebagai kunci menghadapi tantangan tahun-tahun mendatang.

Ibadah syukur pagi itu pun resmi menjadi penanda awal perjalanan 2026.Bagi jemaat KGPM Pniel Kawangkoan dan masyarakat sekitar, momen ini telah mengisi “tangki spiritual” mereka dengan energi baru. Mereka pulang bukan hanya dengan kenangan khidmat, tetapi juga dengan beban tugas untuk mewujudkan firman yang didengar menjadi aksi nyata dalam keluarga, pekerjaan, dan komunitas.

Sebagai sebuah narasi pembuka tahun,peristiwa di Gereja Pniel Sentrum Kawangkoan ini menorehkan pesan optimis. Ia mengingatkan bahwa di antara hiruk-pikuk resolusi duniawi, ada ruang sunyi untuk bersyukur dan berharap. Dari sanalah, baik pemimpin maupun rakyat, bersama-sama melangkah menuliskan lembaran baru bagi Minahasa, dengan iman sebagai kompas dan pelayanan sebagai jalan. Tahun 2026 pun diawali bukan dengan gemerlap perayaan, tetapi dengan kesederhanaan yang penuh makna dan tekad kebersamaan. (JS)