Minahasa, Chanelpost.com Sabtu pagi di Taler, Tondano Timur, langit tampak berbagi kesedihan. Di kediaman keluarga Wibisono, Lingkungan III, udara berdesir hening, dipecah hanya oleh lantunan kidung duka. Di sanalah, orang-orang berkumpul untuk melepas kepergian seorang perempuan muda, Florencia Lolita Wibisono. Di antara mereka yang hadir, tampak sosok-sosok pemimpin daerah yang datang bukan hanya sebagai representasi jabatan, melainkan sebagai sesama manusia yang turut berduka.
Bupati Minahasa Robby Dondokambey bersama istrinya, Ketua TP-PKK Martina Dondokambey-Lengkong, hadir dengan raut penuh khidmat. Mereka didampingi Wakil Bupati Vanda Sarundajang dan Sekretaris Daerah Dr. Lynda D. Watania. Kehadiran mereka menandakan bahwa kepergian seorang warga, siapapun dia, adalah kehilangan bagi seluruh komunitas. Mereka duduk bersimpuh, menyatu dalam duka bersama keluarga besar Wibisono dan masyarakat Taler yang berduka.
Almh. Florencia, atau yang akrab disapa Lolita, adalah seorang pramugari pesawat ATR 42-500. Usianya masih sangat belia, 32 tahun, 2 bulan, dan 28 hari. Sebuah kehidupan yang begitu bersemangat, mengarungi angkasa, melayani penumpang dengan senyum, kini harus berlabuh untuk selamanya. Kematiannya meninggalkan luka yang dalam, terutama bagi orang tua dan sanak saudara yang ditinggalkan.
Ibadah pelepasan jenazah dipimpin oleh Ketua BPMJ GMIM Baitani Taler, Pdt. Rudy M. Pantouw. Dalam khotbahnya, ia mengingatkan tentang hidup yang fana dan pengharapan iman. Ruang rumah duka yang penuh sesak oleh karangan bunga dan wajah-wajah sedih menjadi saksi bisu betapa Lolita dicintai. Doa-doa mengalir, mengiringi perjalanan terakhir putri Minahasa ini.
Dalam kesempatan yang penuh emosional itu, Pemerintah Kabupaten Minahasa melalui Bupati Robby menyampaikan bentuk perhatian konkret. Akta Kematian dan Kartu Keluarga yang telah disiapkan diserahkan langsung kepada keluarga almarhumah. Tak lupa, santunan duka juga diberikan. Gestur ini lebih dari sekadar administrasi; ini adalah pelayanan yang hadir di saat yang paling dibutuhkan, pengakuan bahwa negara hadir di tengah rasa sakit warganya.
Seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa yang turut mendampingi juga tampak memberikan penghormatan terakhir. Mereka hadir sebagai representasi dari seluruh masyarakat Minahasa, menyampaikan bahwa dalam suka dan duka, mereka adalah satu keluarga besar. Kepergian Lolita menjadi pengingat akan betapa berharganya setiap nyawa dan pentingnya solidaritas dalam kebersamaan.
Peti jenazah akhirnya diangkat, diiringi tangis keluarga dan heningnya doa dari para pelayat. Florencia Lolita Wibisono akan kembali ke tanah, tetapi kenangan tentang pramugari muda yang bersemangat itu akan tetap melayang di langit kenangan orang-orang yang mengenalnya. Pemerintah dan masyarakat Minahasa hari ini menunjukkan, bahwa di saat seperti ini, yang utama adalah hati yang mampu merasakan dan tangan yang siap menopang. (Josel)











