Awal Tahun Baru 2026 Diawali dengan Doa dan Refleksi di GMIM Moria Sasaran

Screenshot_20260102-091223_WhatsApp

Minahasa, Chanelpost.com – Hembusan angin pagi di Tondano menyambut hari pertama tahun 2026 dengan nuansa khidmat. Di Gereja GMIM Moria Sasaran, ibadah syukur pagi itu menjadi titik awal perjalanan tahun baru bagi Bupati Minahasa, Pnt. Robby Dondokambey, beserta seluruh keluarganya. Kehadiran mereka di tengah jemaat bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk mengukir niat baik sebelum mengarungi dinamika pembangunan ke depan.

Bupati Robby didampingi oleh pendamping setianya, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Minahasa, Pnt. Martina Dondokambey-Lengkong. Kehadiran pasangan ini di bangku gereja meneguhkan citra kepemimpinan yang tak hanya bersandar pada kemampuan administratif, tetapi juga pada fondasi iman dan keteladanan keluarga. Mereka duduk menyatu dengan jemaat, menghilangkan sekat protokoler, menyimak setiap firman yang disampaikan.

Ibadah yang penuh khidmat itu dipimpin oleh Pdt. Winda Walalangi, M.Th., yang tidak hanya bertindak sebagai gembala jemaat di Moria Sasaran, tetapi juga sebagai Ketua BPMW Tondano Lima. Di bawah bimbingannya, ibadah pagi itu diarahkan menjadi ruang refleksi bersama tentang makna pelayanan dan tanggung jawab kepemimpinan di tengah masyarakat yang terus berharap pada pembangunan yang manusiawi.

Bagi Bupati Robby Dondokambey, memulai tahun dari altar gereja memiliki makna yang mendalam. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk penguatan integritas diri dan spiritualitas kepemimpinan. “Membangun daerah tidak bisa hanya mengandalkan logika dan angka-angka semata. Hati yang tulus dan hikmat dari Tuhan adalah modal utama,” ujarnya dalam percakapan singkat usai ibadah, menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.

Tradisi mengawali tahun dengan ibadah syukur, seperti yang dilakukan Bupati dan keluarganya, sejatinya mencerminkan karakter spiritual masyarakat Minahasa yang kental. Ritual ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari identitas budaya yang menempatkan Tuhan sebagai sandaran pertama dalam setiap memulai langkah baru. Hal ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keagamaan berpadu harmonis dengan kehidupan sosial-politik di daerah tersebut.

Agenda ibadah ini juga menjadi semacam ‘jeda spiritual’ yang disengaja sebelum seluruh perangkat daerah kembali terjun ke dalam kesibukan program dan target pembangunan tahun 2026. Momen hening ini diharapkan dapat menyegarkan visi dan misi kepemimpinan, sekaligus mengingatkan bahwa akselerasi pembangunan harus selalu disertai dengan ketulusan hati dalam melayani.

Dengan ditutupnya ibadah syukur pagi itu, Bupati Robby Dondokambey dan jajarannya pun siap menyongsong tantangan tahun 2026 dengan semangat baru. Mereka kembali ke meja kerja, membawa serta doa jemaat dan cita-cita bersama untuk kemajuan Minahasa yang lebih baik, berlandaskan iman, kerja keras, dan pelayanan yang penuh tanggung jawab. (JS)